Stres Itu Baik, ia Datang dengan Sopan

Setelah melawati beribu senja, bermililiter air mata, beragam makanan tercerna, kini aku menyadari stres itu baik tetapi selalu dengan cara bar-bar. Ketika stres datang, saat itu pula semua tenaga habis terkuras, emosi meningkat, ingin sekali meledak-ledak lalu tiba-tiba berubah menjadi tangis tersedu-sedu.

Stres selalu tidak sopan tetapi baik, ia membantu menaikan level ketahanan kewarasan agar tetap kuat mengahadapi ke-ambyar-an yang tak bisa santuy.

Namun, lama-kelamaan aku stres dengan stresku sendiri. Ia terlalu bar-bar. Mengubah mood, mengganggu aktivitas hingga orang-orang sekitarku terkena dampaknya, dan akhirnya aku menjadi bar-bar.

Artikel sebelumnya Ternyata, Stres Bisa Menular

Sangat merugikan bukan?

Demi keberlangsungan kewarasan, segala bentuk bar-bar perlu dihilangkan. Kemudian, aku menghindarinya, mengalihkannya, berusaha tak mengakui, bahkan membuangnya. Aku juga jarang menyapanya, sering mengabaikannya, memperkenalkannya ke kamu, dan menceritakan keberadaanya. Jika stress bisa bicara mungkin dia kan berkata “Aku ada tetapi tak dianggap”.

Cara itu berhasil namun aku telah melakukan kesalahan besar. Kefektifan cara tersebut hanya sementara saja.

Aku menilai stres dengan asumsi sendiri, melihatnya melalui indra rasa lalu menyimpulkannya tanpa bertanya. Setelah itu menyalahkan stres, melimpahkan semua kesalahan kepadanya. Aku tak mau mengakui ada rasa sedih yang terpendam, marah yang tertahan, dan kesabaran yang samar-samar.

Semua rasa itu tertumpuk oleh diriku lalu terpanggillaah stres. Ia datang untuk memberitahu kepada raga tentang jiwa yang sudah overdosis terhadap rasa yang tertumpuk. Kadang, stres memberitahukan hal lain yang lebih indah dari harapan.

‘’Hey manusia, aku datang dengan baik’’

sapa stres dengan sopan

Stres datang dengan sopan, mengajarkan memahami rasa yang terpendam dalam jiwa. Membantu mengeluarkan kesadihan, kemarahan, kekecewaan, tekanan dengan cara yang tepat, bisa dengan bar-bar juga dengan sopan.  Adakalanya stres membawa berita bahwa jiwa sedang lelah, sakit, perlu berobat dan istirahat.

Setelah sedikit mengenalnya, aku menyadari stres itu terlalu baik jika disampaikan dengan bar-bar. Apalagi cara bar-bar tidak disambut ramah di dunia manusia yang menjunjung tinggi kesopanan. Maka dari itu, aku ingin lebih mengenal stres dengan megabadikannya dalam kata. Menjadi jejak yang semoga tak terhapus oleh waktu.

Semoga jejak stress ini juga bermanfaat bagi para pejuang stress lainnya. Mari kita bersama menyapa stres dengan ramah, buat mereka nyaman agar menjadi bar-bar yang tetap sopan.

#SquadBloggerODOP

#tantanganPekan2

Written by

Leave a Reply