Sebuah Nasihat untuk Raga sebelum Rusak

Ada sebuah nasihat yang selalu kukenang dari guruku, meski tak pernah bertemu langsung denganya karena telah wafat, namun rasa yang tersampaikan tertinggal dihati setiap santri.

“Awak dienggo berjuang rusak ora dienggo yo rusak, awak dienggo ibadah rusak ora dienggo ngibadah yo rusak, luwih becik dinggo berjuang lan ibadah”

KH. Muntaha Alh.

Jika diterjemahkan berdasarkan bahasa Indonesia menjadi begini

Raga akan tetap rusak meski tak digunakan untuk berjuang, raga juga akan tetap rusak meski beribadah atau tidak. Baiknya pergunakan raga untuk berjuang dan beribadah.

Tiga kalimat singkat namun isinya berjuta makna, ditulisan ini aku hanya bisa mengulas secuil bagian dari berjuta itu.

Raga adalah fisik yang terlihat dari seorang manusia. Ia tak abadi, bisa rusak meski manusia belum mati bahkan akan tetap rusak meski terawat, terlahir kulit muda menjadi keriput tua lalu tak bernyawa.

Begitu juga saat raga hanya digunakan untuk tiduran saja, akan tetap rusak cepat atau lambat.

Nah, mari andaikan raga digunakan untuk berjuang. Memang akan tetap rusak, namun rasa rusaknya berbeda. Seperti pensil yang terus mengecil karena digunakan untuk menulis, jejaknya akan tetap tertinggal, terkenang meski telah menghilang.

Begitu pula tentang raga yang digunakan untuk beribadah. Ia akan lebih terawat dalam batin, menjadi berwibawa dan berkarisma. Auranya hangat dan bercahaya. Membuat mata dan hati tentram jika didekatnya.

Begitulah Sang Maha Penyayang, ia memerintahkan makhluknya untuk beribadah, manfaatnya bukan untuk diriNya tetapi untuk makhluknya. Berjuang juga termasuk ibadah, menjadi perantara raga agar tidak menyesal saat nyawa meninggalkan.

Manusia memang punya hak memilih menggunakan raganya untuk apapun. Tiduran saja, menjadi pendosa, atau penjemput cintaNya. Mana pilihan yang paling pantas untuk manusia yang katanya sebagai ciptaan paling sempurna?

Mari memilih yang baik untuk raga, meski akhirnya akan tetap rusak setidaknya sudah digunakan sesuai yang disukaiNya.

Written by

Leave a Reply