Kesalahan Fatal dalam Bersyukur

Sudah bersyukur tetapi masih belum bahagia? Boro-boro bahagia, ikhlas pun masih susah? coba cek lagi cara bersyukur kita. Barangkali ada sedikit kesalahan yang ternyata berpengaruh besar.

Saat kaki lelah seharian bekerja, mulut pun berkata “Bersyukurlah lelah karena bekerja, ada banyak orang yang masih menjadi pengangguran”

Secara tidak sadar, kita telah membandingkan diri dengan orang lain. Lalu timbul kasian kepada pengangguran karena belum bekerja seperti kita. Lama-lama menganggap diri lebih baik dari mereka yang tak bekerja. 

Titik puncaknya, timbul iri jika melihat orang lain mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus. Lalu berkata “Aku masih beruntung, masih ada orang yang tak punya pekerjaan”

Tak sadarkah? keberuntungan yang dirasakan bukan rasa bersyukur tetapi bentuk penghiburan diri, lebih parahnya merendahkan orang lain yang tak bekerja agar merasa beruntung.

“Jadilah tinggi dengan mengajak bukan menginjak” teman senja

Bersyukur dengan cara membandingkan tidak dibenarkan. Jika cara ini diteruskan, akan muncul pengelompokan orang yang beruntung dan orang dianggap berkekurangan.

Akibatnya, orang berkekurangan menjadi hirarki terendah. Mereka disepelekan, bahkan tak dianggap berharga oleh orang yang sedang merasa beruntung.

Bersukacita diatas penderitaan orang lain, parahnya bersyukur diatas kekurangan orang lain.

Kita sedikit ingat bahwa rasa syukur adalah bentuk terima kasih kepada Sang Pencipta. Tunjukan saja dengan mengucap terima kasih karena telah diberikan kesempatan lelah yang bermanfaat. lebih bagus lagi, bersyukur dengan membagikan rezeki kepada sesama. Selain mendapatkan pahala, barangkali kita mendapatkan cinta dari Sang Pencipta.

Jika caramu bersyukur dengan perbandingan, cukup bandingkan saja diri dengan yang kemarin

Written by

Leave a Reply