Ciri-ciri Kebiasaan Toxic Relationship

Sudah betulkan sikap kita sebagai pasangan?
Sering sekali suatu hubungan yang berlandas cinta tetapi yang dijalani malah penuh tekanan. Pasangan yang tidak peka, kurang pengertian, atau makan hati menjadi keseharian. Akhirnya, hubungan tak bertahan dan kandas di tengan jalan.
Katanya komunikasi kunci utama, namun kenyataannya ada teori-teori dalam hubungan untuk saling intropeksi. Bisa saja, semua sikap kita dalam berhubungan dengan pasangan yang dirasa normal ternyata menjadi sumber toxic terbesar. Sesuatu yang harusnya diperbaiki dalam hubungan malah dibenarkan dan sesuatu yang benar malah disalahkan. Itulah yang disebut toxic relationship.

Banyak orang tidak sadar, termasuk kita, terjebak dalam toxic relationship. Parahnya, kita tidak tahu kalau sedang terjebak dalam keaadaan tersebut. Semua pelajaran di sekolah juga tidak mengajari bagaimana cara berhubungan agar tidak toxic, terutama menjadi pasangan baik dan bijak.

Memang ada pelajaran biologi, seksualitas, dan juga beberapa novel tentang percintaan yang mungkin sempat kita baca. Namun, tak ada pembelajaran nyata saat prakteknya. Lebih buruknya lagi, kita mencari sumber pengetahuan tentang hubungan dari majalah yang tidak jelas sumbernya, atau bersumber dari teman yang juga memiliki masalah yang sama. Terjadilah hubungan yang berlandaskan Trial and error, dan kebanyakan yang munculnya adalah error-nya.

Sejak kecil kita dicekoki dengan kebiasaan-kebiasaan romantis yang sebenarnya tidak terlalu sehat untuk dipraktekan dalam hubungan. Budaya kita tentang cinta pun membentuk pemikiran kepada pasangan sebagai asset,  diobjektivikasi layaknya barang, kita bisa jadi melihat pasangan tidak sebagai support emosional yang setara.

Hasil penelitan psikologi tentang relationship menghasilkan sesuatu yang menarik. Ditemukan prinsip-prinsip baru yang berbeda dengan kebiasaan yang kita anggap sebagai ‘hubungan baik’. Mungkin bagi kita kebiasaan tersebut normal saja, ternyata menjadi toxic dan perlu diperbaiki.

Berikut beberapa kebiasaan toxic yang perlu diketahui sekaligus sebagai intropeksi.

  1. Banyak kode-kode
    Ketika ada suatu masalah atau keinginan. Salah satu pasangan atau keduanya lebih memilih tidak mengatakan secara langsung, tetapi memilih kode-kode aja atau melakukan tindakan yang menyebalkan. Seperti mendiamkan pasangan atau tiba-tiba jadi dingin dengan harapan si pasangan nyadar, minta maaf, atau berubah. 
    Kebiasaan ini terkesan biasa padahal sebuah toxic relationship. Kedua pihak tidak nyaman untuk mengkomunikasikan masalah secara terbuka dan jelas ke satu sama lain atau bisa disebut passif-agresif.
    Sebagai pasangan, harusnya sudah ada rasa kenyamanan satu sama lain. Katakanlah apa yang dirasakan dengan bahasa yang tidak menyakiti pasangan. Bisa dengan nada yang lembut, tak ada bentakan, cacian, tuduhan, atau hinaan.
  2. Menyalahkan Pasangan atas Emosi yang Dirasakan
    Kadang, saat kondisi mood kita sedang jelek, kebetulan sekali pasangan juga sedang sibuk. Harapannya pasangan lebih perhatian kepada kita, malah fokusnya terbagi, seakan tidak peka. Sering terjadi pula ketika kebosanan melanda, pasangan lagi yang disalahkan atas  rasa bosan tersebut. Kita mengharapkan pasangan bersikap begini dan begitu, berharap juga menyembuhkan rasa bosan yang ada.
    Sikap tersebut termasuk toxic relationship karena menyalahkan pasangan atas emosi yang kita alami adalah sikap egois. Emosi kita adalah tanggungjawab kita sendiri. Buatlah diri sendiri nyaman tanpa bergantung dengan sikap orang lain. Boleh sekali curhat atau pun minta pelukan tetapi tetap ingat bahwa pasangan atau siapapun tidak punya kewajiban mengubah emosi kita kembali baik. Emosi kita adalah tanggungjawab kita.
  3. Menutupi Masalah dengan Solusi Sementara
    Mengatasi konflik yang muncul ditengah-tengah hubungan tidak tepat dengan menutupinya saja meski sementara.
    Contoh sederhana saat cewek ngambek, si cowok mengajaknya liburan, makanan, atau pun menawari barang. Si cowok pun bersikap romantis dan minta maaf. Kemudian ngambeknya cewek terselesaikan.
    Hal ini sangat toxic karena masalah yang sebenarnya tidak terselesaikan. Meskipun hubungan kembali adem, masalah akan tetap ada kecuali menyelesaikanya dengan tuntas. Lebih parahnya membuat cewek akan sering marah terus karena terbentuk pola pikir ‘setelah marah, terbitlah hadiah’. Pola pikir tersebut tidak disadari karena perilaku si cowok yang memberi hadiah untuk suatu yang bukan kebaikan sudah menjadi kebiasaan.
    Boleh sekali memberikan hal-hal indah kepada pasangan saat terjadi konflik, namun berikanlah saat masalah terselesaikan. Hadiah tersebut menjadi bentuk apresiasi karena berhasil menyelesaikan masalah bersama.
  4. Menunjukkan Kecemburuan
    Cemburu tanda cinta tetapi menjadi toxic saat tidak pada tempatnya. Missal saja, melarang bertemu dengan lawan jenis, menghapus semua kontak, hingga tidak mengizinkan komunikasi dengan teman. Hal ini menjadi toxic relationship. Kecembruan-kecumburuan tersebut berasal dari ketidakpercayaan kepada pasangan dan diri sendiri.
    Hal ini memicu drama-drama kecil yang menjadi besar, meraguka kestiaaan pasangan, dan timbul kebohongan.
    Satu-satunya solusi mengatasi kecemburauan yang berlebihan yaitu percaya kepada pasangan. Jika sangat sulit untuk percaya, maka berhenti atau berganti dengan pasangan yang bisa dipercaya.

Sumber: Channel youtube: satu persen
#ODOPBatch7

Written by

Leave a Reply