3 Cara Bersabar dalam Waktu Singkat

Kata sabar sudah diperkenalkan sejak kecil oleh keluarga. Hanya diperkenalkan saja sebagai sikap baik, tetapi tidak diajarkan caranya.

Sekolah pun hampir sama, mengenalkan sikap sabar, mengajak bersikap sabar dengan iming-iming mendapatkan manfaatnya.

Semakin berumur, semakin sadar. Kehidupanlah yang mampu mengajarkan sikap sabar. Memberitahukan cara bersikap bersabar dan mengolah sabar agar selalu sabar.

Banyak orang sudah bersabar namun kadang menghilang tergantikan kemarahan, kekecewaan, ataupun keluhan.

Berikut ulasan singkat 3 cara sederhana bersabar dalam waktu singkat.


1. Kenali Emosi

Psikologi mengatakan marah, sedih, kecewa, senang, bahagia adalah emosi. Mengenal emosi diri sangat penting. Marahkah? Sedihkah? Kecewakah? Atau ketiganya.

Hal itu berguna untuk mengetahui kebutuhan diri saat emosi berlebihan. Setelah mengetahuinya luapkan dengan cara yang tidak merugikan diri sendiri dan tidak merugikan orang lain.

Contohnya

Saat emosi marah berlebihan terjadi dalam tubuh, ciri-cirinya ingin sekali diluapkan dengan berteriak, membentak, bahkan memukul.

Pahami ciri-ciri tersebut. Sadari bahwa cara tersebut berdampak buruk. Cari pengganti yang tak merugikan diri seperti berkata “Aku marah” atau pengalihan dengan minum air. Ubah posisi berdiri menjadi duduk. Bisa juga pergi sebentar dari sumber emosi berlebihan.

“Memilih meluapkan emosi dengan cara bijak adalah cara sabar tersingkat”

Teman senja

2. Terapkan pola pikir tenang di segala keadaan

Ketenangan memang sulit didapatkan tetapi mudah diucapkan. Maka ucapkan dulu saja ”Tenang dulu, tenang dulu”. Atur nafas perlahan untuk jeda sesaat.

Jika emosi kembali berlebihan, luapkan saja dengan menangis atau berteriak namun tetap dengan dosis normal. Lalu katakan lagi “Tenang dulu”. Ulangi terus hingga mendapat ketenangan.

Ada sebuah cara sederhana untuk tenang yaitu menghitung angka 1 hingga lima atau sampai sepuluh. Setelah itu fokus solusi.

Boleh menikmati kemarahan atau kesedihan namun diselang selingkan dengan logika dan perasaan. Tingkatkan kolaborasi antara pikiran dan hati agar lebih manusiawi.  

3. Mengingat Sang Pencipta

Ketika terjadi emosi berlebihan. Mulut mengatakan sepatah kata secara reflek. Apa saja keluar tak terkendali seperti hewan, kata tak sopan, keluhan, bahkan menyalahkan.

Sebenarnya, kata yang terucap mempengaruhi emosi yang ada. Usahakanlah mengucap kata positif seperti sayuran, makanan atau berdoa hal yang baik dengan diawali kata semoga. Lebih bagus lagi berkata sambil menvisualisaikan ucapan berupa gambar.

Biasanya secara reflek otak akan mengirimkan bentuk-bentuk ucapan berupa gambar lalu hal-hal yang terkait denganya. Misalnya, saat sedih berkata “Aku seperti remahan roti yang tak dianggap”. Otomatis otak akan menampilkan roti, selai, atau pun minuman.

Ada kata yang langsung berefek menjadi sabar ketika diucapkan  yaitu “Astagfiruallah” atau “Ya Allah”. Pikiran dan hati akan mengingat Sang Pencipta yang mencintai kesabran. Menundukan diri sebagai makhluk pemuja cintaNya sehingga harus bertindak yang disukainya yaitu sabar.

Setiap orang punya cara sendiri untuk bersabar. Apapun caranya, orang yang mau bersabar adalah orang yang paling mulia disisiNya.

Written by

Leave a Reply