3 Alasan Mengapa Menangis Masih dianggap Tabu

Menangis bukan hal tabu. Banyak dari kita sudah tahu kalau menangis bukan hal memalukan malah menyehatkan. Mengeluarkan air mata juga bukan tanda orang lemah, ia membantu mengeluarkan tekanan yang sudah sangat menumpuk. Jika tidak dikeluarkan akan menjadi stress berkepanjangan dan berlanjut ke depresi hingga keinginan bunuh diri lalu mati.  

Banyak sekali peneliti menyebutkan manfaat menangis tetapi mengapa aktivitas menangis tak dianggap seperti aktivitas tertawa. Kita sudah biasa melihat orang tertawa hingga aktivitas tertawa bukan hal tabu. Lucunya, ketika salah satu diantara kita tak ikut tertawa, langsung dipertanyakan alasannya, seakan-akan tindakan tersebut tidak normal atau kurang sopan.

Berbeda sekali perlakukan ketika semua orang menangis dan salah satu diantaranya tidak menangis. Ia dianggap kuat dalam segi mental, tegar, dan tangguh.

“Aku terharu dan juga sedih tetapi aku tak menangis’’ Berkata dengan nada tegar.

Masih terasa hangat dikepala, memori menangis sambil mengendarai motor beroda dua. Sesekali angin berhembus sejuk membelai pipi seakan menghapus tetesan air mata. Lalu tangan dengan cepat mengusap pipi yang basah, segera mengeringkan saat sadar sebentar lagi sampai dirumah.

Memori lain memutar kenangan tentang suara orang menangis di toilet. Tersedu-sedu dengan suara pilu. Orang-orang tak jadi berisik, mereka pun meninggalkan toilet dengan cepat. Setelah menunggu cukup lama, seseorang keluar dengan mata merah dan bengkak. Kita yang melihat sering kali pura-pura tidak tau dan tidak ingin tahu. Tak jarang pula menjadi bahan pembicaraan ketika kita mengenalinya.

“Aku suka hujan karena dengannya bisa menangis tanpa ketahuan”

temansenja.com

Lama-kelamaan dunia manusia tak ramah dengan menangis. Berbagai alasan diada-adakan untuk menutupi aktivitas menangis. Padahal menangis juga berhak diakui, dianggap, lebih bagus lagi disapa.

Menangis dianggap tabu

Banyak sebab mengapa menangis masih tabu, apalagi menangis di tempat umum. Semua orang reflek memandang dengan diam. Suasana berubah sepi meski sejenak. Lalu seola-olah tidak terjadi apa-apa sambil melirik curi-curi pandang.

  1. Malu

Menangis identik dengan kesedihan, bisa juga tekanan. Banyak dari kita sungkan menunjukan emosi kesedihan di depan umum. Akhirnya berpura-pura tertawa atau terseyum menjadi pelarian. Ingin dianggap ceria adalah salah satu alasan, karena orang yang ceria dinilai indah bagi orang lain.

Adapula orang tua atau suami yang tak ingin terlihat tertekan. Dua peran ini ingin sekali menunjukkan kepada orang yang disayanginya bahwa dia kuat. Hal ini berhubungan erat dengan penilaian menangis adalah orang tak mampu, mudah menyerah, dan lemah.

Penilaian yang salah kaprah ini terus diwariskan turun temurun.

Kesedihan itu sama dengan kebahagian. Keduanya sama-sama emosi yang sudah ada sejak manusia lahir. Jadi, tak perlu disembunyikan atau disamarkan dengan senyuman. Tunjukan saja.
Begitu pula dengan tekanan, ia ada karena masalah yang membuat orang terus bisa bertahan hidup. Tak perlu malu mengakui tekanan yang dirasakan begitu berat. Jadi, tak perlu sembunyi untuk menangis.  

Lagipula, melihat aktivitas menangis bisa menumbuhkan sikap simpati dan empati pada anak dan orang dewasa yang kini mulai padam.

2. Verbal Bullying
Jenis bullying tak hanya secara fisik saja tetapi juga verbal yang sakitnya menembus  ingatan jangka panjang. Dampak akibat bullying verbal lebih lama sembuhnya, trauma yang dirasakan tak bisa cepat hilang malah bisa mengubah kepribadian ke arah negatif.
Sering ditemukan ketika sedang bercengkerama, beberapa verbal bullying malah dianggap suatu candaan.

“Diputus cewek aja nangis, lebay
“Si cengeng datang, pertanda banjir bandang”
“Aku cuma becanda, gitu aja nangis’’

Bukan hanya sesama teman, parahnya verbal bullying saat menangis juga terjadi di keluarga, tempat yang seharusnya menjadi ternyaman untuk meyandarkan semua rasa termasuk menangis.

“Putri aja tidak menangis, masak anak cowok mama nangis’’.
“Jangan menangis, malu-maluin!
“Mah, nangisnya berhenti dong. Kalau ada masalah bilang bukannya nangis”.
“Jangan nangis Pa, ada anak-anak”.

Mungkin si pengucap kalimat-kalimat tak bermaksud buylling, ia mencoba menyemangati orang terdekatnya. Namun, respon-respon tersebut berdampak tak baik saat emosi sedang sensitif. Hal ini berkaitan dengan rasa pengakuan yang ada dalam diri manusia. Personality dan identity sebagai diri yang ingin dihargai sebagai manusia ‘baik’ bertentangan dengan kalimat tersebut.

Rekomendasi untuk kamu Pertanyaan Biasa tetapi Bisa Berbahaya

3. Respon Kepo
Ketika melihat orang yang sedang menangis, kata pertama yang dipikirkan yaitu masalah dan kesedihan. Orang-orang terdekat mulai mengulurkan tangan mencoba memberi bantuan. Mencoba menghibur dengan berbagai cara salah satunya dengan berkata “Ceritakan saja padaku, barangkali bisa membantu”.
Kalimat yang baik namun berakhir tak mengenakan saat tak ada respon dari teman yang sedang menangis. Hal yang terjadi adalah pertanyaan datang berurutan, berubah menjadi asumsi, lalu memaksa.
“Kamu kenapa?”
“Kamu lagi bertengkar?”
“Ada yang sakit?”
“Sudah, sudah, menangis bukan solusi, ceritakan saja padaku, kita sama-sama mencari solusinya“.
“Bukannya jawab malah nangis terus”.

Si penghibur mulai tidak sabar, sedang si yang dihibur mulai marah karena berpikir “Dasar, tidak peka”. Semakin lama percakapan dilanjutkan, semakin membuat tidak nyaman. Kadang, orang yang sedang menangis hanya ingin ditemani saja. Jika pertanyaan tersebut terus berlanjut, tangisannya akan berhenti dengan berkata “Tidak apa-apa, aku hanya ingin sendiri”.

Si penghibur pun pergi lalu orang yang menangis tadi merasa sendiri, kesepian dan menangis lagi karena merasa bersalah pada temannya tadi.

Menangis bukan hal tabu, bukan juga hal memalukan, cara meresponnyalah yang membuat tabu sehingga orang yang sedang menangis merasa menjadi tabu dan malu.

Jinko Umihara, professor di Nippon Medical School Jepang menyebutkan bahwa menangis mungkin menjadi cara terbaik dalam mengurangi stress.

Hasil studi tear expert oleh William Frey dari University Minnesota menyatakan bahwa menangis dapat melepaskan endorphin yang bisa meningkatkan perasaan bahagia dan kesejahteraan. Cara terbaik untuk mendapatkan manfaat menangis yaitu dengan emosi saat melakukannya (menangis). Cara ini lebih baik dari pada sekadar meneteskan air mata.

Menangis itu normal malah menyehatkan. Ia membantu mengeluarkan frustasi, tekanan, dan perasaan yang negatif lainnya yang terpendam dan memang harus dikeluarkan.

Oh disana, berdirilah engkau
dengan senyuman dan keping harapan
dibelakang tempatmu bersandar
tanganku terbuka kapan pun kau ingat pulang
selalu ada menemanimu
-Saudade, Kunto Aji-

Referensi
Beritagar.id
#SquadBlogerODOP

Written by

Leave a Reply