What’s Left of Us

Judul                     : What’s Left of Us
Penulis                 : Richard Farrell
Jenis Buku           : Fiksi
Penerbit              : Gagas Media
Tebal Halaman  : 339

Sumber :@lulu_musthofia

What’s Left of Us merupakan sebuah karya novel seorang penulis juga pembuat film bernama Richard Farrel. Cerita novel diangkat dari kisahnya sendiri sebagai seorang pecandu yang berhasil sembuh keluar dari candu. Sekarang, beliau berprofesi sebagai penulis, guru, jurnalis, pembuat film, dan dosen bahasa inggris di University of Massachusetts, Lowell, Amerika Serikat.

Melalui novelnya, ia memakai tokoh ‘aku’ dengan nama aslinya yaitu Richard Farrell. Tokoh tersebut dikenalkan sebagai pecandu heroin, sehingga alur cerita novel mengikuti cara berpikir pecandu parah yang terbiasa sakaw. Pembaca diajak menyelam kedunia para pemuja narkoba, masuk ke dalam kehidupan para pecandu yang lebih memilih rasa sakit sakaw daripada mengahadapi kesakitan kenangan hidup yang pahit.

Kehidupan normal itu tidak ada. Yang ada hanya kehidupan itu saja. Sekarang mari kita selesaikan. (hal. 3)

Mengikuti alur cerita novel sangat menguras kosentrasi karena seperti menjadi pecandu itu sendiri. Banyak sekali cerita flashback di tengah-tengah cerita nyata. Seperti pecandu yang tiba-tiba melamun sedang memutar ingatan masa lalu. Ucapannya pun selalu tidak bisa dipegang, penuh kebohongan. Tragisnya, kebohongan-kebohongan tersebut seperti kebenaran yang sangat nyata. Sulit sekali memisahkan kebenaran yang diceritakan dan kebenaran yang memang pernah terjadi. (hal. 338)

Begitulah kehidupan seorang pecandu. Ia masih memiliki rasa harga diri, sangat sensitif apabila ada orang yang meremehkanya. Makanya mengatakan kebohongan untuk melindungi kehormatanya. Ia juga takut dengan kenyataan yang perlu dihadapinya. Saking takutnya, seorang Richard Farrel lebih memilih mengambil risiko kematian saat menyuntikkan heroin dengan jarum bekas.

Ia sangat sadar akan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dengan dua orang anak. Namun, beberapa kesalahan yang ia lakukan membuatnya trauma hingga memilih heroin sebagai kisah akhir hidupnya. Bersama dua orang teman yang juga pecandu heroin, mereka mencoba bunuh diri. . Mereka merasakan hidup tak berguna melebihi sampah. Mereka berharap dengan bunuh diri menghilangkan segala ketakutan, kecemasan, hingga penyesalan  menghantui pikiran.

Kerinduan kepada kedua anakku tak bisa digantikan walau dengan heroin yang menyenangkan. (hal. 42)

Sebenarnya, Richard Farrell memiliki kehidupan yang cukup baik.  Ia tinggal di sebuah desa bernama Lowell. Ayahnya seorang guru yang dikagumi semua warga di daerahnya. Sebagai seorang guru yang dihormati, kehidupan ekonomi dan sosialnya cukup bagus. Namun, Richard sebagai anak kedua terlahir cacat, kakinya tidak bisa tegak seperti anak-anak lain. Ayahnya pun melatihnya berjalan dengan sistem militer hingga dia berhasil menjadi bintang sepakbola di sekolahnya saat SMA.

Sekilas, kisahnya terdengar hebat. Seorang anak cacat kaki menjadi bintang sepakbola. Namun, dibalik semua keberhasilannya, ada sikap seorang ayah yang sangat keras. Bentakan, tamparan, hingga pukulan fisik biasa terjadi padanya saat kecil. Ia hanya bisa berkata ‘iya’ dalam ketakutan. Ayahnya selalu bilang demi kebaikanya atau besarnya rasa cinta kepada anak hingga bertindak kekerasan adalah wajar.

Richard sangat mengagumi sekaligus membenci ayahnya. Didikan ayah yang keras dengan alasan kebaikan, membentuk Richard sebagai seorang anak yang pintar berbohong agar tidak terkena hukuman. Semakin dewasa ia berani melawan dengan adu tangan. Pertengkaran sering terjadi di dapur rumah. Tak ada yang berani melerai pertikaian antara mantan tentara dengan anaknya, termasuk ibu yang melahirkan Richard.

Kadang, ibu serta Sean sebagai kakaknya juga terkena pukulan yang meninggalkan bekas biru lebam. Kekerasan tersebut terus terjadi hingga suatu malam ayahnya ditemukan sudah meninggal di dapur. Richard melihat dengan matanya sendiri, ayahnya memegang dada sambil meminta obat kepadanya lalu berhenti bergerak dan meninggal.

Kejadian tersebut meninggalkan trauma yang mendalam bagi Richrad, ia takut, sedih, bahagia, sekaligus bingung, bagaimana cara mengabarkan kematian kepada ibunya yang sedang di rumah sakit karena pengangkatan rahim. Kecemasan melanda, ia merasa menjadi penyebab ayahnya meninggal. Saat itulah, ia mencoba heroin pertama kali untuk menenangkan pikirannya agar bisa menceritakan kabar kematian dengan benar.

Novel ini terus menggiring pembacanya untuk merasakan kehidupan para pecandu narkoba. Ada kesan iba dan menyebalkan saat tokoh utama yang kembali memakai heroin setelah rehabilitasi. Ada juga pecandu yang bunuh diri saat rehabilitasi. Mereka menderita dalam mental, sudah begitu, tidak ada orang yang mempercayai para pecandu termasuk orang terdekat.

Penulis memakai latar belakang daerahnya sendiri yaitu Lowell. Pendiskripsianya pun cukup jelas. Bahasanya runtut. Namun, kadang membosankan ketika menceritakan flashback. Bagi pembaca yang minat tentang psikologi, buku ini bisa menambah pengetahuan tentang psikologi depresi, pecandu, dan keinginan bunuh diri.

Rating review: 8
#RCO6

Written by

Leave a Reply