Tempe dan Telur

Kala itu saat makan siang. Dua anak yang bercukupan mampir di sebuah tempat makan.

“Makan siangmu hanya lauk tempe goreng aja?” tanya Bella.

“Iya” Jawab Anne singkat.

“Apa enak?” balas Bella singkat. “Enak aja” jawab Anne heran.

“Kalau aku sih ditambah semur telur, coba deh ” balas Bella. lalu si Anne berpikir dan mencoba semur telur.

Hari berikutnya, Anne selalu tak bisa makan dengan lauk tempe saja. Lidahnya sudah asing dengan kenikmatan makan nasi hanya dengan lauk tempe goreng.

Suatu hari, sepiring menu makan siang lengkap dengan ayam bakar, sambal, dan lalapan tertata rapi siap santap di atas meja. “Andai saja ada rebusan sayuran hijau, pasti nikmat” batin Anne dalam hati. Lalu ia mengunyah suapan pertama, lengkap dengan lalapan, tempe goreng, tahu goreng, tambah pula bakso goreng yang masih mengepul.

Sangat nikmatkah? Hanya enak saja karena ada rebusan sayur yang absen di meja itu. Semenjak itu kebutuhan makan Anne bertambah, kenikmatanya tentang hal sederhana telah digantikan dengan hal yang lebih besar lalu terlupakan dan menghilang. Apakah sikap Bella salah? Tidak juga. Baginya lauk tempe saja itu tidak cukup nikmat makanya menyarankan telor kepada si A yang dia anggap nikmat.

Kenikmatan setiap orang berbeda-beda. Ada yang sudah merasa cukup dengan kesederhanaan, ada yang perlu ini itu untuk mencapai suatu kecukupan. Memang begitu sewajarnya manusia, tercipta dengan bentuk yang beda-beda. Perbedaan tidak untuk disamakan. Namun, secara tidak sadar kita membandingkan perbedaan yang ada, melihat orang lain aneh ketika berbeda. Lalu menyarankan orang lain dengan standar diri kita.

Sadarkah? Apa yang kita sarankan bisa mempengaruhi orang lain bahkan bisa mengubah pola pikir orang tersebut. Memang, sebuah saran adalah salah satu bentuk kepedulian. Lebih bagus lagi kepedulian tersebut disampaikan dalam bentuk yang lebih baik seperti mendukungnya ketika sudah baik dan menawarkan bantuan ketika sedang membutuhkan pertolongan.

Written by

Leave a Reply