Sedih dan tragis, 3 Kisah Pahlawan di Gambar Uang Kertas Rupiah

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 2016, pemerintah menetapkan 11 pahlawan nasioanal sebagai gambar utama pada bagian depan rupiah kertas dan rupiah logam negara kesatuan republik Indonesia.

Tujuan dari ditetapkannya gambar pahlawan dalam uang tersebut adalah untuk lebih mengenal pahlawan nasional kepada masyarakat agar menumbuhkan jiwa pahlawan setiap warga bangsa.

Penasaran klik ini Ayah Kaya : Penyebab Buta Keuangan dan Solusinya

Setiap pahlawan mempunyai kisah perjuangan membela tanah air. Beberapa kisah terkenal dengan nuansa heroiknya, ada pula dengan kisah pengorbanan yang memulikan hati. Pada 11 pahlawan nasional pada uang kertas, ada 3 kisah tragis yang menyayat. Simak ceritanya berikut.

1. Moehammad Hoesni Thamrin
Pahlawan nasional pada bagian depan  uang kertas Rp.2000,- merupakan perintis revolusi kemerdekaan Indonesia. Pada 6 Januari 1941, beliau dituduh bekerja sama dengan jepang, ia pun ditahan dan dikurung tidak boleh mendapat kunjungan dari siapapun hingga akhir hayatnya.

Tips Keuangan : Ciri-ciri Buta Keuangan

2. Frans Kaisiepo
Frans merupakan pahlawan nasional yang berasal dari papua. Sempat menjadi perbincangan netizen saat pemerintah mengumumkan desain mata uang rupiah pada uang kertas Rp.10.000,- Bahkan ada yang terang-terangan mem-bully di media sosial.

source: today.line.me

Banyak orang tak tahu bahwa Frans merupakan pahlawan nasional yang memperjuangkan mengganti nama Papua menjadi Irian yang bermakna Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands (Belanda). Saat perjuanganya, usulan tersebut tidak mendapat dukungan dari Belanda dan wakil-wakil Indonesia.  Beliau juga  sempat ditahan dan mengalami penyiksaan beberapa kali oleh Belanda, Meskipun begitu, beliau tetap berjuang.

3 Cut Nyak Meutia

Pahlawan yang satu ini berjuang melawan Belanda bersama suaminya bernama Teuku Cut Tunang. Keduanya berasal dari Aceh dan selalu berjuang di garis depan. Ketika beberapa kali bertempur di garis depan, Teuku Cik Tunong tertangkap oleh Belanda dan akan dijatuhi hukuman mati.
Menjelang hari hukuman, Cut Nyak Meutia menjenguk suaminya unutk terakhir kalinya. Ia datang dengan menggendong bayi yang merupakan anak mereka berdua. Saat-saat terakhir, Sang suami berwasiat kepada Cut Meutia untuk menikah dengan Pak Nanggroe, sahabat dan rekan perjuangan mereka.

Sang suami berkata dengan tersenyum dan mendoakan terbaik untuk istri serta anaknya bernama Raja Sabi. Tiga kisah tersebut hanya sebagai kecil dari pengorbanan mereka untuk Indonesia.

Kita sebagai penikmat kemerdekaan, tanpa perjuangan fisik, tanpa menghadapi terror kematian,  Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jas Merah). Patutnya kita meneruskan perjuangan pahlawan nasional dengan menjadi warga negara yang baik.

Bac juga : Cara Keluar dari Jebakan Uang

Written by

Leave a Reply