Takdir Rena 2

Hatiku bimbang. Uang ini bisa untuk membeli makanan bertahun-tahun. Adiku tak akan kelaparan lagi. Bahkan bisa sekolah seperti teman-teman yang lain. Bisa membeli obat untuk bapak juga. Banyak hal yang bisa kulakukan dengan uang ini. Namun, nuraniku ingin mengembalikan uang tersebut kepada pemiliknya.

Aku menoleh melihat kedua adiku yang merintih kesakitan memengangi perutnya. “Aku haus Kak. Perutku sakit” kata Seta. Ia masih berumur lima tahun. Beda dengan Angga yang memilih memejamkan mata lalu tidur.

“Sabar ya Seta. Kakak mau ketemu teman di ujung jalan sana. Semoga dia bisa membantu kita” jawabku lembut. Lalu pergi sambil membawa selembar uang ratusan untuk membeli makanan. Aku memutuskan meminjam selembar saja.

Beberap menit kemudian. Tanganku menenteng tiga nasi kotak dan minuman. Hatiku sangat senang, akhirnya kita bisa makan. Sepasang mata adiku berbinar melihat nasi dan telur dengan aroma yang sangat menggoda. Kamu pun makan dengan lahap. Jika diingat-ingat, sudah seminggu kita tak makan nasi. Hanya sebuah singkong berukuran sekepal tangan sehari.

“Angga, ajak Seta pulang ya” kataku.

“Kak Rena mau kemana? Aku mau ikut mencari botol bekas” jawab Angga yang sudah berusia 13 tahun.

“Angga istirahat dulu, kasian Sena sudah kecapekan. Lagian kita sudah dapat makanan untuk hari ini. Pulan dulu saja, bawa nasi kotak ini untuk Bapak. Tunggu aku pulang. Nanti kita cari bersama-sama” jawabku.

“Iya Kak” jawab Angga singkat.

Kami berjalan ke arah berbeda. Mereka kembali ke rumah sedangkan aku menjinjing kantong plastik menuju alamat pemilik uang yang tadi kupinjam selembar. Berjarak tiga jam perjalanan, kakiku berhenti di rumah megah tingkat dua dengan pagar yang sangat tinggi.

“Benarkah ini rumah yang kucari?” tanyaku dalam hati.

#ODOPBatch7 #LastChallange #Episode2

Lanjut baca episode 3

Written by

Leave a Reply