Tahu Gejrot yang Baik

Sepulang mengajar, ada pesan masuk dari Ibuku.

“Nak, kalau kamu sempat, Ibu titip tahu gejrot, jika sibuk tidak usah saja” batinku membaca pesan itu.

“Iya, nanti jika ada” balasku cepat.

“Sekitar pukul 10.00 waktu setempat, rombongan jama’ah haji sudah sampai di bandara… “ kata presenter TV yang sempat kulirik.

“Aku bisa beribadah haji tidak ya? kebutuhan semakin banyak, antrian pemberangkatannya juga panjang sekali, hmmm…. memang aku bisa daftar?” keluhku murung sambil melangkah keluar membawa tas.

Kulihat bensinku sudah mau habis, mampirlah aku ke pom bensin dekat sekolah. Kebetulan sekali ada pedagang tahu gejrot yang sepertinya sedang istirahat di dekat mushola pom bensin itu. Sekalian saja aku beli dipedagang itu daripada mampir-mampir lagi.

“Pak, beli tahu gejrotnya Rp.5.000,00 saja, pedasnya sedang” kataku.

“Iya Neng, baru pulang ngajar ya?”tanya si Pedagang ramah.

“Iya Pak”. Jawabku singkat.

“Mulia sekali pekerjaanya Neng, ilmunya selalu bermanfaat”katanya.

Aku hanya tersenyum tipis. Mencoba menerka maksud dia memuji begitu. Baru pertama aku beli jajan di pom bensin ini. Kulirik kanan kiri suasananya cukup sepi. Sejak kapan daerah ini ada pedagang kaki lima?

“Rumahnya dimana Neng?’’ tanyanya lagi sambil membungkus pesananku.

“Jauh Pak, 30 menit dari sini”jawabku singkat, curigaku meningkat

“Bawa mantel tidak Neng? Cuacanya sudah mendung” balasnya sambil melihatku ramah.

“Bawa” jawabku singkat semakin tidak nyaman.

Lalu Ia menyerahkan pesananku yang sudah jadi. Buru-buru kukasihkan selembar uang Rp.5.000,00. Ingin sekali secepatnya pergi menjauh dari pedagang itu.

“Terima kasih Neng, semoga bisa berjumpa lagi di Mekah”Katanya sambil tersenyum ramah.

Aku tercengang, kusunggingkan senyum mengucapkan terima kasih dengan perasaaan malu. Semudah itu aku berprasangka buruk sedangkan beliau dengan mudahnya mendo’akanku. Aku pun termenung dengan ucapan beliau tadi. Sejak awal beliau sudah ramah, Ia juga mengingatkanku membawa mantel atau tidak, bahkan mendo’akanku bisa beribadah haji. Aku semakin malu.

Sembari mengendarai motor, aku termenung lagi. Begitu indah kebetulan yang Engkau tuliskan. Aku yang pesimis dipertemukan dengan orang yang optimis. Do’anya menyadarkanku untuk terus yakin kalau aku bisa jika mau berusaha. Bukankah Tuhan sesuai prasangka hambaNya dan tidak ada yang mengubah nasibnya kecuali hambanya sendiri.

Tak lupa aku berterima kasih kepada Ibuku yang ingin tahu gejrot, tanpanya mungkin aku masih mengeluh dengan kepesimisanku.

#ODOPBatch7 #onedayonepost #Septemberceria

Written by

Leave a Reply