Kisah Siti Hajar dan Ismail

Dua insan manusia ini adalah seorang istri dan anak dari Nabi Israhim as.

Kisah keduanya patut menjadi teladan bahwa perngorbanan bukanlah bukti cinta, melainkan memberi, ikhlas, dan sabar.

Kisah Siti Hajar sangat mashyur di semua kalangan. Terutama sejarah air zam-zam. Penasaran? Simak cerita versi  umma.id berikut.

Di dalam buku “Misteri Ka’bah”, buku terjemahan dari The Ka’bah yang diterbitkan penerbit Zaman, dijelaskan, Siti Hajar adalah istri kedua Ibrahim setelah Siti Sarah. Siti Hajar adalah budak dari Siti Sarah. Siti Sarah memberikannya untuk dinikahi suaminya, Nabi Ibrahim, disebabkan Siti Sarah tidak bisa mempunyai anak karena sudah terlalu tua. Dan Allah merahmati mereka dengan seorang anak dari Siti Hajar. Setelah menanti 9 bulan, Siti Hajarmelahirkan ‘’Anak ini bernama ismail’’  kata Nabi Ibrahim as. ‘’ Iya,  anak aku bernama ismail,’’ timpal Siti Hajar.   

Alkisah, pada suatu hari Nabi Ibrahim menerima perintah dari Allah swt. bahwa dia harus membawa Siti Hajar (istrinya) dan Ismail yang baru lahir, ke suatu gurun pasir yang tandus dan gersang, yang sekarang ini kita kenal sebagai kota Mekkah.

Pada waktu itu tidak ada apa pun dan siapa pun di sana, gurun itu benar-benar kosong. Setelah Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan Ismail, seketika itu pula Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan mereka berdua di sana.

Jadi Nabi Ibrahim berjalan ke tempat itu, sedangkan Siti Hajar tidak tahu apa-apa, apa tujuan Nabi Ibrahim membawa mereka berdua ke tempat itu. Nabi Ibrahim hanya meyakini, bahwa Siti Hajar dan anaknya Ismail akan melakukan perjalanan dan akan kembali ke rumah.

Saat pertama kali dibawa Nabi Ibrahim. Dari Kan’an menuju lembah yang gersang, sungguh, Siti hajar penuh dengan ketakutan. Pasalnya, suku Amaliqah yang suka berkemah saja, setelah beberapa hari bermukim di sana, tak pernah lagi ingin mengunjungi lembah tersebut lantaran susah mendapatkan air dan makanan ternak.

Saat tiba di lembah tersebut tampak sekali kegelisahan, kebingungan, dan ketakutan Siti Hajar, dan Nabi Ibrahim sangat memahaminya. Dengan suara yang lembut Nabi Ibrahim bertutur, “Janganlah takut Bunda Ismail. Saat ini kau berdiri di tanah Allah yang diberkati. Yakinlah kepada Allah.” Setelah sehari semalam Nabi Ibrahim menemani Siti Hajar dan Ismail, Nabi Ibrahim pun pamit ingin pulang ke negerinya, Kan’an. Usai bersiap, ia memandangi wajah Siti Hajar lalu berkata, “Aku akan meninggalkan kamu beserta putramu dalam pengawasan Allah. Aku berharap bisa kembali lagi secepatnya ke sini, Insya Allah!”

Setelah terjadi dialog, akhirnya Siti Hajar memahami apa yang dilakukan Nabi Ibrahim adalah perintah Allah, maka ia menerimanya dengan penuh keikhlasan dan keyakinan bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Dengan nada tegas Siti Hajar mengatakan saat Nabi Ibrahim ingin menaiki kendaraannya, “Jika memang begitu perintah-Nya, aku yakin Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Andai kau Hajar, akankah menaati suami dalam keadaan tersebut?  

Setelah kepergian Nabi Ibrahim, Siti Hajar mulai memasuki kehidupan yang berbeda, yang hanya ditemani oleh putranya Ismail. Keesokan paginya, Siti Hajar terbangun karena tangis keras bayinya, Ismail. Siti Hajar pun mulai panik dan bingung karena bayinya sangat lapar dan dahaga. Ia mengambil kantong air, namun ternyata isinya sudah habis. Ia pun mulai mencari ke-sekeliling tempatnya bermukim. Dia pergi menuju bukit Shafa berharap ada sekelompok kafilah (rombongan pedagang) di sana, namun ternyata tidak ada.

Tiba-tiba dilihatnya kilauan air di lereng bukit Marwa, dikejarnya namun ternyata tidak ada. Ia melihat pula di bukit Shafa ada air, didatangi lembah bukit tersebut ternyata tidak ada juga air di sana. Ia berbolak balik antara Shafa dan Marwa hingga tujuh kali, meski sengatan matahari membakar wajahnya dan hamparan pasir membuat telapak kakinya bengkak.

Padahal dahulu, masa kecil dan remajanya di Mesir ia dapat menikmati air yang jernih dan segar, matahari yang cerah dan angin bertiup lembut. Setelah menikah dengan Ibrahim as di antara ladang dan kebun yang indah dihembus udara yang segar. Kini ia ditakdirkan mengalami derita kesendirian dan keterasingan. Ia dipaksa merasakan keganasan dan kegersangan hamparan sahara yang membentang luas.

Di tengah harap dan putus asa, ia kembali menemui bayinya. Ketika dekat dengan anaknya, ia terkejut. Tadi Ismail. menangis kenapa sekarang tenang? Ia tersentak kaget bercampur bahagia melihat air yang mengalir di bawah kaki bayinya. Air itu muncul bekas hentakan kaki bayinya saat menangis. Siti Hajar pun berucap “Zam Zam” “(Kumpullah) wahai air!” Ia pun mencidukkan air tersebut dengan tangannya dan memberi minum bayinya. Ia pun tak henti-hentinya memuji Allah swt. atas rahmat yang dianugerahkan kepadanya. (Diambil dari Mimbar Islam, 2011).

Written by

Leave a Reply