Fenomena Cross Hijaber, Hantui Muslimah Indonesia

Penangkapan salah seorang pria bercadar di Sukoharjo, Jawa Tengah akhir September kemaren seakan menjadi permulaan yang mencengangkan untuk fenomena Cross Hijaber yang namun menjadi sengatan manjur bagi muslimah di Indonesia untuk kembali waspada dan berhati-hati dalam melakukan aktifitas sehari-hari, terutama sebagian muslimah yang menggunakan cadar dan niqab. Meskipun telah dikonfirmasi bahwa laki-laki tersebut mengidap kelainan jiwa dan bukan bagian dari Cross Hijaber. Patut diwaspadai dewasa kini, Cross Hijaber membuat koloni dan jejaring via dunia maya telah berani menampilkan diri sebagai bentuk identitas dan mempunyai kekuatan komunal. Meskipun penulis yakin bahwa anggota dari Cross Hijaber tidak terlalu banyak, namun bukan berarti dengan naik trendingnya fenomena ini kemudian menyurutkkan angka perilaku Cross Hijaber bahkan justru keinginan untuk mengikuti menjadi semakin naik karena rasa penasaran dan munculnya fenomena duplikasi akibat tren.

                Reaksi paling ketara dari sekian banyak identitas baju dan tampilan luar yang ada di lingkungan sosial Indonesia maka muslimah bercadar dan berniqablah yang paling merasa dirugikan. Hal ini dikarenakan aktivitas Cross Hijaber menggunakan identitas mereka dalam melakukan beberapa tindakan seperti masuk dalam fasilitas publik khusus perempuan. Masifnya gerakan hijrah yang berelasi pada pakaian dan aksesoris keislaman lainnya di Indonesia menjadi faktor cepat berkembangnya informasi mengenai Cross Hijaber. Berbagai kecamanpun sudah turun dari beberapa organisasi masyarakat  seperti Nahdlatul Ulama yang disampaikan langsung oleh Ketua Umum PBNU, Said Aqil Sirad serta lembaga MUI salah satunya MUI Jawa Barat. Tidak  hanya kecaman namun juga medesak pihak berwenang untuk segera membedah gerakan Cross Hijaber. Dapat dipastikan gerakan Cross Hijaber mengganggu kenyamanan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

                Fenomena Cross Hijaber diartikan sebagai  perilaku laki-laki yang menggunakan identitas sosial seperti baju dan make up gender lawan yaitu perempuan. Mengerucut lagi pada identitas berupa kerudung, gamis, dan penutup muka yang dapat berupa cadar dan masker. Meskipun ada beberapa Cross Hijaber yang tidak menggunakan cadar atau masker namun menggunakan make up.  Fenomena Cross Hijaber merupakan turunan dari Transgender berupa Cross Dress atau Transvesti.

                Ahli filsafat Michael A. Gilbert dalam jurnal penelitiannya mengenai Transgender berhasil mendefiniskan secara rigid apa itu Cross Dress. Cross Dress disebutkan sebagai seseorang yang mempunyai identifikasi gender dan seks tertentu tetapi menggunakan pakaian lawan jenis dengan pengecualian pada aktivitas menirukan seorang aktor atau aktris, atau seseorang yang tengah menggunakan kostum dengan tujuan pekerjaan. Ditambahkan lagi oleh Michael A. Gilbert bahwa Cross Hijaber tidak menginginkan dirinya menjadi sosok gender lawan baik secara penampilan setiap hari hingga mengubah bentuk tubuh secara medis.

                Begitupun pada Cross Hijaber dimana dapat dipastikan yang menggunakan hijab tidak bermaksud ingin mengubah struktur sosial mereka sebagai perempuan seutuhnya, melainkan hanya pada kesempatan tertentu. Lalu, apa alasan mereka melakukan Cross Hijaber? Dibutuhkan analisa panjang tergantung kondisi masing-masing klien tersebut. Penulis mempunyai alternatif alasan yang cukup masuk akal yaitu transvesti fethisme.

                Transvesti fethisisme dideskripsikan oleh WHO dan American Pshyciatric Association (APS) sebagai perilaku seseorang menggunakan identitas gender dan seks untuk tujuan fethisme meskipun dalam istilah medis terdapat perbedaan antara Cross Dressing dan Transvesti Fethisishme. Masuknya Cross Hijaber dalam lingkungan perempuan patut dicurigai sebagai tindakan upaya kepuasan sesksual. Fetishisme digunakan untuk menunjukkan dorongan seksual yang ditunjukkan kepada benda dan bagian tubuh tertentu, misal seorang laki-laki yang tertarik pada pakaian dalam atau kaos kaki. Maka dalam pembahasan Cross Hijaber diduga mempunyai ketertarikan pada hijab syari dan penutup muka baik cadar maupun masker.

Terlepas dari motif pelaku Cross Hijaber patut meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian kepada sekitar. Siapapun bisa menjadi korban perilaku Cross Hijaber entah dia yang berbaju syari maupun yang tidak, bahkan perempuan secara umum. Memang mereka mempunyai ketertarikan terhadap suatu identitas khusus namun akibat yang ditimbulkan menjarah setiap perempuan. Bayangkan saja tempat yang privat dimana perempuan bisa secara bebas untuk mengakses bagian tubuh tertentu namun justru menjadi tempat yang berbahaya. Belum lagi jika pelaku melakukan dokumentasi yang dikemudian hari disebarkan dan menjadi bahan orientasi seks tertentu. Kepedulian sangat dibutuhkan, sapa dan salam bisa menjadi langkah jitu. Suara laki-laki bisa dengan mudah dikenali dengan sapa dan salam. temansenja-psn

Leave a Reply