Diary Depresi

Kupandangi darah yang keluar dari pergelangan tangan. Darahnya tak menetes ke bawah, hanya menyembul perlahan menegaskan bentuk segaris goresan. Bibirku tersenyum pilu. Kulit halus itu kini terhias sebuah luka. Bentuknya mirip sayatan rapi karena memang kusengaja melakukanya.

“Sangat menyenangkan” bisiku lirih. Menghilangkan semua omelan cinta yang samar terngiang-ngiang dipikiran.

Omelan yang katanya bentuk kasih sayang namun seperti tuduhan. Memori omelan itu pun kembali berputar dengan jelas.

“Jam segini kok baru pulang sekolah? Keluyuran terus, pantas saja nilaimu turun. Mama dan Papa selalu jadi juara kelas. Kamu pasti bisa seperti kita jika rajin belajar tidak keluyuran menghabiskan uang.”

“Aku ikut elstra melukis dulu Ma” jawabku pasrah.

“Bukannya kemarin Mama sudah bilang, berhenti saja ikut organisasi dan fokus belajar. Sejak ikut organisasai yang tidak jelas itu, nilaimu menurun. Buat apa mengikuti organisasi yang tidak bermanfaat. Sekarang mandi terus belajar, kerjakan tugas sekolah dengan benar” balasnya sambil meninggalkanku tanpa memberi kesempatan menjelaskan.

“Mama… Mama… Lihat ini” kusodorkan layar ponsel smratphone di depan mama. “Aku memenangkan lomba puisi Ma” Kataku riang.

“Lombanya tingkat daerah ya? Baguslah. Sekarang belajar yang rajin. Kamu sudah terlalu banyak main-main. Lihat temanmu yang lolos menjadi peserta olimpiade, masa depanya pasti cerah” jawabnya acuh tak acuh.

Aku sudah belajar dan belajar. Semua nilai selalu kusempurnakan namun “Belajar yang rajin” itulah yang selalu mama ucapkan. Biarlah, setidaknya aku masih punya tempat ternyamanku yaitu dunia kataa yang bisa menemaniku kapan saja.

Ternyata dunia warnaku tak bisa bertahan lama.

“Ma … maaf… Aku tidak lulus” kataku ketakutan.

“Bagaimana kamu tidak lulus tes masuk universitas? Inilah akibatnya tidak menuruti kata orang tua. Disuruh belajar malah main-main terus. Sadarlah, Semua puisi-puisi itu tak ada gunanya untuk masa depan kamu”

Pandanganku berkunang-kunang. Kepalaku seperti terikat dengan tali yang sangat erat. Aku berkata sambil terisak “Aku juga ingin lulus Ma… Aku sudah belajar dengan sangat keras Ma… Aku-“

“Buktinya mana? Nyatanya kamu tidak lulus. Mama sangat kecewa dengan kelakuanmu” Lalu ia pergi keluar meninggalkanku di ruangan mewah dan besar itu.

Setelah itu, Aku tak pernah memiliki hidupku. Pakaian, makanan, hingga teman diatur oleh mama. Demi melihat senyuman mama, aku berpura-pura tersenyum bahagia. Hanya itu satu-satu usahaku yang diakui dan membuat mama bahagia.

Lama kelamaan jiwaku yang sakit sudah tidak bisa bertahan lama. Fisiku mati rasa. Hanya sayatan ini yang masih membuatku berasa hidup. Senikmat inikah rasa sakit?

Aku ingin lagi.

Sayatan horizontal yang telah terwarnai darah tadi tak cukup memuaskan. Hanya terasa gatal saja dikulit tak mampu membangunkan hati yang mati. Aku menorehkan lagi goresan, kali ini bentuknya vertikal. Perlahan, kutarik kearah siku. Terasa ngilu dan perih menjalar dari tangan kiriku hingga seluruh badan sampai telapak kaki.

Setiap senti kunikmati keperihan dengan perasaan hampa. Menggantikan kesakitan hati yang aku lupa penyebabnya. Pikiranku kosong. Otaku hanya menginformasikan ada rasa sakit di lengan kiriku. Lalu aku terpejam, mengalirkan sepasang tetes air mata membasahi wajah yang tak memancarkan sinar.

Aku sangat lelah.

Bagiku, kasih sayang yang selalu didengungkan adalah beban. Cukup tak disalahkan saja aku sudah senang.

#ODOPBatch7 #TantanganPekan-7

Written by

Leave a Reply