Angsuran tak Mengenal Liburan

“Besok libur, pekerjaan pun ikut libur, tetapi angsuran hutang tetap jalan”. Begitulah celetuk pengendara motor yang mampir di toko serba ada dipinggir jalan. “Biaya sewa toko tetap satu tahun 12 bulan tidak diperpanjang sesuai liburan padahal penghasilan ikut berhenti karena liburan” Sahut penjuak toko.

Aku hanya tersenyum manis lalu pamit pulang. Di perjalanan aku mampir sebentar di warung sembako dan sayuran.

Liburan telah datang semoga yang mengutang juga ikut liburan.

Kata pemilik warung diikuti tawa khasnya yang renyah. Salah satu pembeli pun menyahut dengan pembelaan “Liburan hanya ilusi untuk kehidupan yang tak mau berhenti, bahkan yang mati pun tetap tak bisa libur. Ia tetap berjalan dengan namanya, sikapnya, dan hutangnya.” Obrolan itu pun semakin ramai sampai menjelang sore.

Hutang dan angsuran sudah menjadi kebutuhan di keinginan yang tak terkontrol. Sebuah peluang sekaligus jebakan berbahaya. Si kreditor yang pintar memanfaatkan peluang, membuat aturan hutang kebal liburan. Sedangkan si pengutang harus melunasi hutang meski liburan. Aturan yang disepelekan menjadi jebakan.

Begitulah hutang bisa mengubah liburan menjadi jebakan halus, efeknya terasa lambat. Lama-lama menjerat, keluarlah dari hutang sebelum jeratanya sangat erat.

Teman senja

#OneDayOnePost

Written by

Leave a Reply